
SUMEDANG – Pondok Modern (PM) Al-Aqsha resmi membuka Kegiatan Bahasa dan Latihan Pidato pada Rabu (3/8/2026) di Dome Lapang Belakang Putra. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya berbahasa resmi (Inggris dan Arab) di lingkungan pondok. Acara dipandu menggunakan bahasa Arab sebagai bentuk pembiasaan komunikasi santri. Pembukaan dilakukan secara simbolis oleh KH. Mukhlis Aliyudin melalui pemukulan gong, pemotongan pita, serta penyerahan mahkota bahasa kepada santri teladan bahasa.

Dalam sambutannya, Dr. KH. Mukhlis Aliyudin, M.Ag menegaskan bahwa PM Al-Aqsha akan memfokuskan penguatan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai identitas pondok. Santri diarahkan membiasakan penggunaan bahasa isyarah, pemasangan mufradat di lingkungan pondok, serta meningkatkan pelafalan (pronunciation) dalam percakapan sehari-hari. Program kaderisasi bahasa juga melibatkan santri kelas 5 sebagai penyampai kosakata harian kepada seluruh santri.
Kegiatan pembukaan semakin semarak dengan penampilan public speaking dan story telling dalam bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang dibawakan oleh perwakilan santri. Selain itu, terdapat penampilan lagu berbahasa Arab sebagai penutup rangkaian acara. Melalui program ini, PM Al-Aqsha berharap budaya berbahasa asing semakin berkembang sehingga mampu mencetak generasi “Cageur Bageur, Pinter dan Qurrata A’yun” yang unggul dalam karakter, akademik, dan komunikasi global.

Adapun penampilan yang ditampilkan pada pembukaan program bahasa meliputi:
- Public Speaking Bahasa Arab – Muhammad Khairul Akbar (Kelas 4)
- Public Speaking Bahasa Inggris – Sayyid Munji Al-Hadi (Kelas 4)
- Public Speaking Bahasa Indonesia – Rehan Zulfikar (Kelas 5)
- Public Speaking Bahasa Arab – Muhammad Dafa Dhiyaulhaq (Kelas 5)
- Story Telling Bahasa Inggris – Kayla Putri Apriliani (Kelas 3)
- Public Speaking Bahasa Indonesia – Salwa Prasti Rengganis (Kelas 3)
- Sing a Song Bahasa Arab – Putri Khairunnisa

Melalui program ini, PM Al-Aqsha berharap budaya penggunaan bahasa Arab dan Inggris tidak hanya diterapkan dalam kegiatan resmi, tetapi juga menjadi kebiasaan santri dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, pondok menargetkan lahirnya generasi santri yang percaya diri, komunikatif, serta mampu bersaing dalam berbagai kompetisi akademik maupun non-akademik di tingkat nasional dan internasional.
Penulis: Muhammad Iqbal Azis